Naiknya Jumlah Kendaraan di Yogyakarta Bikin Jalanan Jadi Macet Tiap Hari

Naiknya Jumlah Kendaraan Bikin Jalanan Jogja Macet Tiap Hari
Kondisi lalu lintas padat merayap di Jalan Letkol Subadri, Yogyakarta (Sumber: motorplus-online.com)

CokroNews – Yogyakarta, (Senin, 3/3) Fenomena kemacetan di Yogyakarta saat ini telah menjadi salah satu dampak dari perpindahan penduduk dan pertumbuhan penduduk yang sangat pesat disertai adanya pengingkatan jumlah kendaraan. Perluasan pembangunan ke daerah pingiran kota menyebabkan peningkatan jumlah pelaju menuju pusat kota, sehingga memicu kemacetan yang cukup parah.

Hal tersebut secara tidak langsung ada kaitannya dengan pertumbuhan kendaraan yang tidak diikuti dengan regulasi yang mengontrol dan tidak adanya regulasi yang kuat untuk memberikan pilihan masyarakat untuk bisa menggunakan moda transportasi publik yang nyaman dan memadai.

Read More

Baca Juga:

Rektor UCY Kembali Terpilih sebagai Ketua HAKI KOMDA DIY Periode 2025-2028

Fenomena ini sebenarnya sudah bisa diprediksi sebelumnya, ada efek positif dari pertumbuhan ekonomi yang semakin baik. Namun, ada efek samping juga terkait kepemilikan kendaraan yang semakin tinggi.

Pertama, fenomena pertumbuhan kendaraan hingga saat ini tidak ada regulasi yang bisa mengontrol, sehingga kendaraan tipe lama masih beroperasi di jalan. Sementara itu, kendaraan dengan tipe baru semakin bertambah, sehingga menyebabkan jumblah kendaraan semakin besar.

Baca Juga:

Hadeging Kadipaten Pakualaman Ngayoyakarta Ke-213 Hadirkan Acara Adat Hingga Perlombaan

Menurut Nindyo Cahyo Kresnanto , Akademisi Universitas Janabadra, tahun 2024 terdapat 2,8 juta sepeda motor dan 433.000 kendaraan roda empat, sementara jumlah penduduk DIY tahun 2023 mencapai 3,7 juta jiwa. Artinya, sekitar 75% penduduk DIY memiliki sepeda motor, sedangkan kepemilikan mobil mencapai 11,53%,” pertumbuhan kepemilikan kendaraan terus meningkat, jaringan jalan tidak berkembang signifikan.”Pertumbuhan jalan hanya sekitar 0,2% per tahun. Bahkan, mungkin akan ada bayi yang naik motor atau orang tua berusia 90 tahun yang masih berkendara dengan motor. Ini prediksi yang mungkin terwujud, mirip dengan Jakarta, di mana kepemilikan kendaraan pribadi bisa mencapai 130% dari jumlah penduduknya,” jelasnya (dikutip dari dishub.jogjaprov.go.id).

Libur natal dan tahun baru menjadi momen yang sangat dinantikan bagi jutaan masyarakat Indonesia. Berdasarkan data dari Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta, jumlah kendaraan yang masuk dan keluar tahun ini meningkat dari pada tahun sebelumnya.

Moda transportasi darat khususnya kendaraan pribadi mengalami lonjakan mencapai 2,7 juta kendaraan keluar-masuk selama tenggat waktu tanggal 24 Desember 2024 hingga 4 Januari 2025. Sedangkan Nataru tahun 2023/2024 kendaraan yang keluar-masuk tidak mencapai 2 juta. Data ini diperoleh dari camera analytics yang di pasang di empat titik jalan utama antara lain, Prambanan, Wates, Tempel, dan Piyungan.

Guna mendorong DPRD DIY untuk mengantisipasi parahnya kemacetan di Yogyakarta, bisa dimulai dengan usaha prefentif yakni dengan merubah budaya atau kebiasaan masyarakat untuk mau mengunakan transportasi publik.

Selain itu, pemerintah Yogyakarta juga harus memiliki regulasi yang ketat dalam penambahan kendaraan di Yogyakarta, seperti kendaraan tahun pembuatan berapa yang boleh berjalan, sehingga tidak terus menambah jumlah kendaraan dan kemacetan di Yogyakarta.

Pemerintah Yogyakarta dalam ini juga harus menambah layanan angkutan publik yang lebih baik dan punya daya tarik sehingga orang mau berpindah dari angkutan pribadi ke angkutan umum.

Dengan adanya perubahan tindakan masyarakat tersebut, harapannya dapat mendorong DPRD DIY agar melakukan pengembangan Sistem transportasi massal seperti monorel, LRT, atau MRT untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. (LB)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *