Cegah Pernikahan Dini, UCY Ajak Kerjasama KUA Kota Gede Yogyakarta

KUA Kota Gede

CokroNews – Yogyakarta, (Kamis, 8/5) Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (UCY) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat jaringan kerjasama yang berorientasi pada penguatan nilai-nilai keislaman dan pengembangan akademik. Bertempat di Auditorium UCY, dilangsungkan kegiatan penandatanganan kerjasama antara UCY dan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kota Gede, Yogyakarta, yang kemudian dilanjutkan dengan seminar nasional bertajuk “Peran KUA dalam Penerapan Hukum Islam di Indonesia.”

Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai unsur penting dalam lingkungan akademik dan kelembagaan Islam, seperti Rektor UCY, Dekan Fakultas Agama Islam (FAI), Ketua Program Studi Hukum Keluarga, dosen-dosen FAI, mahasiswa FAI, serta Kepala KUA Kota Gede Yogyakarta, Warsana Muji Raharjo, S.Ag. Suasana kegiatan berlangsung penuh antusias dan khidmat, menandai sinergi baru yang diharapkan mampu membawa kontribusi nyata bagi penguatan hukum Islam di Indonesia, khususnya dalam ruang-ruang praktis kehidupan masyarakat.

Read More
Baca Juga:
Kerjasama yang dibangun antara UCY dan KUA Kota Gede Yogyakarta meliputi aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, kerjasama ini juga membuka peluang luas bagi mahasiswa untuk melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) langsung di lingkungan KUA, sehingga mampu memahami dan merasakan langsung dinamika pelayanan masyarakat yang berbasis hukum Islam.

Dalam seminar nasional yang menjadi inti kegiatan, Warsana Muji Raharjo menyampaikan pemaparan yang menyoroti pentingnya peran KUA dalam menjaga marwah hukum Islam, terutama dalam hal pernikahan. Ia menekankan bahwa proses pernikahan dalam Islam tidak hanya sebatas akad, tetapi juga merupakan komitmen panjang yang harus dipahami secara utuh oleh calon pasangan suami istri. “Kami sangat menyambut baik kolaborasi ini. Semoga mahasiswa FAI UCY dapat menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual dalam mengambil keputusan penting, termasuk pernikahan,” ujarnya.

Baca Juga

 Fakultas Teknik UCY Gelar Seminar Konservasi Air Tanah Bahas Solusi Tenggelamnya Kota

Salah satu poin menarik yang disampaikan dalam seminar ini adalah peringatan terhadap tren pernikahan usia muda yang belakangan menjadi fenomena sosial. Warsana memaparkan bahwa di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, angka pengajuan perceraian mencapai rata-rata 1.000 kasus per hari, baik melalui KUA maupun Pengadilan Agama. Data tersebut menjadi alarm penting bahwa pendidikan pra-nikah serta pemahaman mendalam terhadap hukum keluarga Islam harus terus ditingkatkan, terutama di kalangan generasi muda.

Kegiatan ini juga membuka ruang diskusi yang hidup antara narasumber dan para mahasiswa. Banyak di antara peserta yang mengajukan pertanyaan seputar tantangan sosial dalam penerapan hukum Islam, posisi KUA sebagai institusi layanan publik berbasis agama, serta praktik-praktik yang terjadi di lapangan saat menangani kasus-kasus keluarga. Respons aktif dari mahasiswa menunjukkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar formalitas seremonial, tetapi menjadi momen intelektual yang menggugah kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga nilai-nilai Islam dalam struktur masyarakat modern.

Dengan adanya kerjasama ini, UCY berharap dapat terus berkontribusi dalam membentuk generasi yang berkompeten di bidang hukum keluarga Islam serta menjadikan mahasiswa tidak hanya sebagai penonton dalam dinamika sosial, tetapi sebagai pelaku aktif yang mampu memberikan solusi berdasarkan nilai-nilai Qur’ani. Kegiatan ini menjadi titik awal dari berbagai agenda lanjutan yang akan dilakukan secara berkesinambungan antara dunia akademik dan institusi keagamaan. Sinergi ini menjadi bukti nyata bahwa peran KUA bukan hanya administratif, tetapi juga edukatif dan transformatif.

Langkah UCY dalam menggandeng KUA Kota Gede ini diharapkan menjadi teladan bagi kampus-kampus lain dalam membangun relasi strategis yang berbasis nilai dan fungsi keumatan. Sebab dalam dunia yang bergerak cepat ini, penguatan kolaborasi menjadi salah satu kunci keberhasilan pendidikan tinggi Islam dalam menjawab tantangan zaman. (NM)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *